Minggu, 15 November 2015
Selasa, 03 November 2015
Tulus Cinta
Hari ini aku mulai final semester lima, tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, walau sebenarnya akulah yang lalai. Waktu tidak memperhatikan siapapun di dunia. Dia terus berjalan layaknya bumi yang terus berputar pada porosnya. Sekarang sudah berada di penghujung semester aku kuliah, dan akan beranjak ke semester baru. Di akhir final pun kawan-kawan seangkatan sudah mulai menyusun rencana akan berlibur kemana, berbeda dengan diriku. Aku hanya ingin di rumah saja, di rumah banyak hal yang harus aku kerjakan, mesti memanfaatkan waktu libur dengan sebaik-baiknya. Pokoknya bisa berpenghasilan, mengingat kehidupan yang pas-pasan, jadi harus memulai memanfaatkan peluang yang sebaik-baiknya.
Di rumah aku bisa menulis dan memperbaiki tulisan-tulisanku yang pernah ku tulis, waktu memasak di rumah juga masuk dalam agendaku setiap harinya, mungkin disinilah letak perbedaan waktu bagiku dengan kawan-kawanku. Aku berpikir, jika ada waktu dua hari dalam libur satu minggu rasanya itu adalah liburan sebulan bagiku.
Pada hari terakhir final aku langsung keluar ruangan, setelah itu cipika-cipiki dengan teman-temanku yang lucu-lucu dan humoris, yang selalu membuat aku tertawa. Dalam riang-riangnya melepaskan salam perpisahan, seorang teman langsung menarik tanganku, katanya ingin membiacarakan sesuatu yang serius secara empat mata. Akupun kaget dengan tarikannya barusan, aku langsung bertanya, "Ada apa, Sobat?", dia tidak menjawab, cuma senyum simpul.
Sesampai di depan ruangan yang kosong barulah ia mengutarakan maksud hatinya, dengan berkata "Aku ingin bicara sesuatu". Aku masih penasaran sekali, "Ada apa, Ukhti???, sepertinya ada hal penting yang ingin kamu ceritakan". Dia masih saja tersenyum.
"Sebenarnya aku mau bilang, aku dilamar oleh seseorang di kampus ini", jelasnya.
"So, sweet, kabar baru ni kaya nya, bagaimana ceritanya dan yang mana orangnya?, aku tambah penasaran.
"Tadi Bu Dosen Sri menemuiku di antin, aku ditawarkan untuk menikah dengan Pak Iwan".
"Waahh, tunggu apalagi itu kabar baik menurutku, Sobat. Kamu tidak berencana menolaknya kan?"
"Itulah, masalahnya aku tidak cinta sama dia".
"Memangnya ada orang lain di hatimu?". Ku tambah sedikit guyonan.
"Tidak juga, tapi untuk meng-iyakan hubungan yang halal dengan nya sangat sulit bagiku. Karena ini masalah dunia dan akhirat. Yang menjadi masalah itu karena aku tidak mencintainya".
Aku ingin sekali memberikan solusi yang terbaik, agar dia tidak menolak lamaran itu. Tapi aku belum punya pengalaman tentang hal itu, mungkin jika aku berada di posisi dia juga bakalan merasakan hal yang sama. Kalau aku bilang menikahlah dengannya, mana rujukan yang telah aku pelajari.
"Begini saja Ukhti, alangkah baiknya kamu istikharah dulu, baru kamu beri keputusan jika memang kamu punya pilihan untuk menerima atau menolak", tegasku. Aku tidak tau dari mana kata-kata itu, tapi aku tau kata istikharah itu dari tetangga sebelah.
***
Saat ini, aku masih galau-galaunya memikirkan pekerjaan, tapi gara-gara cerita teman, aku mulai memikirkan pernikahan, tidak tau kenapa rona semangat kerja di jiwa berubah menjadi rona menikah. Memang ada beberapa orang yang sudah mengutarakan hajatnya untuk melamar diriku, tapi aku tidak berharap untuk menikah dulu karena memang umur masih muda belia rasanya. Ingin menikmati masa muda dulu, walau aku tau menikah itu adalah ibadah. Tapi tidak hanya itu yang ku pikirkan, setidaknya aku juga mesti mempersiapkan diri jika memang ingin menjadi madrasah pertama nantinya buat anak-anak, mempelajari ilmu-ilmu tentang rumah tangga agar bisa melayani suami dengan baik.
Kalau memang benar kawan akrabku mulai mau manikah, aku harus bagaimana, aku merasa tidak punya ketenteraman lagi bergaul dengannya. Aku berharap semoga saja setelah dia menikah masih bisa terjalin hubungan persahaban ini sampai kapanpun.
***
Hari senin, hari pertama masuk kuliah sudah mulai belajar, bertemu dengan dosen baru, dan ada juga dosan yang pernah masuk sebelumnya
"Sebenarnya aku mau bilang, aku dilamar oleh seseorang di kampus ini", jelasnya.
"So, sweet, kabar baru ni kaya nya, bagaimana ceritanya dan yang mana orangnya?, aku tambah penasaran.
"Tadi Bu Dosen Sri menemuiku di antin, aku ditawarkan untuk menikah dengan Pak Iwan".
"Waahh, tunggu apalagi itu kabar baik menurutku, Sobat. Kamu tidak berencana menolaknya kan?"
"Itulah, masalahnya aku tidak cinta sama dia".
"Memangnya ada orang lain di hatimu?". Ku tambah sedikit guyonan.
"Tidak juga, tapi untuk meng-iyakan hubungan yang halal dengan nya sangat sulit bagiku. Karena ini masalah dunia dan akhirat. Yang menjadi masalah itu karena aku tidak mencintainya".
Aku ingin sekali memberikan solusi yang terbaik, agar dia tidak menolak lamaran itu. Tapi aku belum punya pengalaman tentang hal itu, mungkin jika aku berada di posisi dia juga bakalan merasakan hal yang sama. Kalau aku bilang menikahlah dengannya, mana rujukan yang telah aku pelajari.
"Begini saja Ukhti, alangkah baiknya kamu istikharah dulu, baru kamu beri keputusan jika memang kamu punya pilihan untuk menerima atau menolak", tegasku. Aku tidak tau dari mana kata-kata itu, tapi aku tau kata istikharah itu dari tetangga sebelah.
***
Saat ini, aku masih galau-galaunya memikirkan pekerjaan, tapi gara-gara cerita teman, aku mulai memikirkan pernikahan, tidak tau kenapa rona semangat kerja di jiwa berubah menjadi rona menikah. Memang ada beberapa orang yang sudah mengutarakan hajatnya untuk melamar diriku, tapi aku tidak berharap untuk menikah dulu karena memang umur masih muda belia rasanya. Ingin menikmati masa muda dulu, walau aku tau menikah itu adalah ibadah. Tapi tidak hanya itu yang ku pikirkan, setidaknya aku juga mesti mempersiapkan diri jika memang ingin menjadi madrasah pertama nantinya buat anak-anak, mempelajari ilmu-ilmu tentang rumah tangga agar bisa melayani suami dengan baik.
Kalau memang benar kawan akrabku mulai mau manikah, aku harus bagaimana, aku merasa tidak punya ketenteraman lagi bergaul dengannya. Aku berharap semoga saja setelah dia menikah masih bisa terjalin hubungan persahaban ini sampai kapanpun.
***
Hari senin, hari pertama masuk kuliah sudah mulai belajar, bertemu dengan dosen baru, dan ada juga dosan yang pernah masuk sebelumnya
Senin, 02 November 2015
Langganan:
Postingan (Atom)